Diprediksi 5 Juta Simpatisan Jemput Kepulangan Rizieq Shihab Di Bandara

Diprediksi 5 Juta Simpatisan Jemput Kepulangan Rizieq Shihab Di Bandara
Diprediksi 5 Juta Simpatisan Jemput Kepulangan Rizieq Shihab Di Bandara

Kabarsatu- Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab dijadwalkan akan kembali ke Tanah Air pada 21 Februari 2018. Saat ini Rizieq masih berada di Arab Saudi.

Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Eggi Sudjana mengatakan sekitar 5 juta simpatisan bakal menjemput kepulangan Rizieq di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada bulan depan.

"Estimasi 5 juta simpatisan Habib Rizieq bakal menjemput kepulangannya di bandara," kata Eggi di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (27/1).

Diungkapkannya, dengan banyaknya massa, diyakini tidak akan bisa dibendung jika ada indikasi aparat kepolisian melakukan penangkapan terhadap Rizieq.

Eggi mempredeksi jika itu benar-benar terjadi, akan terjadi ricuh, dan negara akan merugi akibat penutupan bandara.

"Asumsinya, kalau ada jutaan orang, bandara satu hari tutup itu bisa merugi sekitar Rp 9 triliun. Dan kalau itu terjadi jangan salahkan kita, karena kita sudah imbau loh satu bulan, jauh satu bulan. Eh jangan, imam kita mau pulang nih, jangan diganggu," ujar Eggi.

Oleh sebabnya, lanjut Eggi, pihaknya mengimbau kepada Presiden Joko Widodo agar tidak menghalangi kepulangan Rizieq, apalagi sampai memerintahkan Polri untuk melakukan penangkapan.

"Kita tidak ingin takabur, kita ingin membawa pesan perdamaian. Pulang disambut dengan baik, jangan ditahan, kalau ditahan konsekuensinya pasti ada keributan, pasti itu," sebut dia.

Pihaknya juga tidak mau dikatakan mengultimatum pemerintah soal kemungkinan akan adanya eskalasi massa ke bandara jika kepulangan Rizieq terkendala atau terjadi penangkapan. Eggi hanya menghimbau agar Presiden sebagai orang yang memegang kuasa dan bisa menggerakan seluruh personel keamanan untuk sadar bahwa semua adalah sebangsa dan se Tanah Air.

"Bahkan dengan Presiden dan Kapolri seiman dan seislam enggak ada bedanya kita. Tapi kalau mereka menghalangi berarti mereka yang mulai, bahasa Jakarta 'loe jual gue beli'," pungkas Eggi yang berprofesi advokat ini.(aya/mol)

sumber:rmol.co
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.