Penganut Kristen India Alami Kekerasan Oleh Moyoritas Hindu Jelang Hari Natal, Kenapa?

Penganut Kristen India Alami Kekerasan Oleh Moyoritas Hindu Jelang Hari Natal, Kenapa?
Penganut Kristen India Alami Kekerasan Oleh Moyoritas Hindu Jelang Hari Natal, Kenapa?

Kabarsatu- Menjelang perayaan Hari Natal, sejumlah penganut Kristen mengalami tindak kekerasan di India saat sedang berdoa ataupun menyanyikan lagu reliji.

Sekelompok polisi dikabarkan memaksa masuk ke rumah sekelompok warga Kristen, yang sedang menyanyikan lagu relijius di Kota Aligarh, yang terletak di India sebelah utara.

“Dia menendang instrumen musik sebelum menyerang saudara lelaki saya dengan pisau,” kata Jitesh Chauhan, penyanyi di acara ini seperti dilansir Guardian, Ahad, 24 Desember 2017. Rahul Chauhan, saudara Jitesh, memainkan alat musik drum tabla bersama kelompok musik Advent Hari Ketujuh dari gereja Aligarh Church of Ascension.

Jitesh mengatakan polisi ini mengucapkan kata-kata bernada anti-Kristen dan merusak peralatan musik. Sekitar 30 orang yang berkumpul terkejut dengan tindakan polisi ini meskipun mereka tidak terluka.

Sebelumnya di Kota Aligarh, sekelompok aktivis Hindu garis keras membagikan surat peringatan kepada sekolah-sekolah Kristen di kota ini agar tidak melibatkan siswa Hindu dalam aktivitas perayaan Hari Natal.

Di daerah sebelahnya, Mathura, tujuh orang Kristen ditangkap polisi saat sedang berdoa bersama di salah satu rumah anggota. Di daerah Satna, negara bagian Madhya Pradesh, sekelompok paduan suara Kristen ditangkap saat sedang berkeliling dari rumah ke rumah.

Kekhawatiran akan persekusi agama di India biasanya dialami oleh warga minoritas Muslim, yang berjumlah sekitar 180 juta orang. Mengganggu peternakan milik warga Muslim dan pedagang ternak oleh kelompok preman semakin sering terjadi. Kelompok Hindu seperti dari partai berkuasan Bharatiya Janata secara terbuka berupaya melarang Muslim agar tidak bisa membeli properti di kawasan tempat tinggal Hindu.

Namun, sejumlah insiden penyerangan terkait Natal semakin menarik perhatian publik. Menurut John Dayal, sekretaris jenderal dari Dewan Kristen India, mengatakan warga Kristen India merasa gerak mereka semakin terbatas. “Apapun yang berdampak pada Muslim juga berdampak pada warga Kristen,” kata dia.

Pada 2014, India diperintah oleh kelompok nasionalis Hindu lewat kemenangan pemilu besar. Pemimpinya, Narendra Modi, menjadi Perdana Menteri India saat ini. Dia adalah seorang pengkut ajaran Hindutva, yang meyakini budaya dan institusi Hindu harus merefleksikan nilai-nilai Hindu. Kelompok religius minoritas, yang dianggap tersesat karena pengaruh asing, ditoleransi sepanjang mereka mengakui hegemoni Hindu.

Modi sendiri berulang kali menyatakan pemerintahnya akan mempromosikan kebebasan beragama. Namun, Dhirendra K Jha, seorang penulis buku mengenai toleransi beragama, mengatakan kelompok radikal Hindutva melihat munculnya Modi sebagai lampu hijau bagi mereka.

“Setelah Modi jadi Perdana Menteri, kelompok ini mulai berpikir kalau mereka memegang kekuasaan dan ini adalah pemerintahan milik mereka,” kata Jha. “Ini membuat mereka berbuat semena-mena. Mereka tidak takut hukum dan tatanan sosial ataupun ketentuan institusi demokrasi. Mereka bertindak anarkis kemana-mana.”

Ini diperparah sikap diam Modi menyaksikan perilaku kelompok garis keras ini. “Modi tidak akan mau bersuara dan menolong mereka. Tapi dia juga jarang sekali mengkritik perilaku kelompok ini. Karena sikap diamnya inilah, pesan kepada petugas keamanan adalah mereka tidak perlu bertindak terhadap kelompok ini,” kata Jha.

John Dayal menambahkan tuduhan utama kepada warga Kristen adalah melakukan konversi agama secara paksa. Ini bisa berbentuk tekanan kepada individu tertentu untuk berpindah agama, tapi juga bisa berarti berdoa kepada Yesus demi kesembuhan orang lain, atau menawarkan layanan rumah sakit atau sekolah Kristen hingga membayar orang dengan menggunakan dolar AS dan poundsterling Inggris. Ini adalah pemahaman kelompok Hindutva mengenai perilaku warga Kristen, yang dinilai mengganggu mereka.

Beberapa waktu lalu ada sekitar 30 orang dari kelompok garis keras Hindu yang menyerang sebuah gereja dengan alasan ada pembagian uang kepada warga Hindu setempat. “Para lelaki penyerang itu merekam video dan bertanya kepada orang-orang yang hadir apakah merek membagikan uang atau mengajak pindah agama?”

Secara terpisah di Cina, intoleransi beragama juga terjadi namun disponsori oleh Liga Pemuda Partai Komunis Cina. Mereka melarang para anggotanya untuk merayakan Hari Natal di kampus dengan ancaman sanksi. Sikap ini juga ditiru hingga ke tingkat kota. Misalnya di Henyang, kota terbesar kedua di Provinsi Hunan. Anggota Partai Komunis Cina dan publik dilarang merayakan malam Natal dan Hari Natal di jalan-jalan.

Pelarangan perayaan Hari Natal juga terjadi di Wenzhou, sebuah kota kaya di timur Provinsi Zhejiang. Ini berlaku untuk perayaan di sekolah hingga taman kanak-kanak. Di India, kasus intoleransi cenderung dibiarkan oleh negara.(aya/tempo)
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.