Kompak Lima Pilgub Bersama Gerindra dan PKS, PDIP Sebut PAN Susah Dipegang

Kompak Lima Pilgub Bersama Gerindra dan PKS, PDIP Sebut PAN Susah Dipegang
Kompak Lima Pilgub Bersama Gerindra dan PKS, PDIP Sebut PAN Susah Dipegang

Kabarsatu- Usai kompak bermitra di lima pilgub dengan Gerindra dan PKS, PAN nampak mulai serius ngeblok ke kubu Prabowo. Padahal saat ini, partai yang dinahkodai Zulkifli Hasan ini masih tercatat sebagai mitra pemerintah. Sikap PAN ini membuatnya dibully PDIP.

Sikap ngeblok ke Prabowo itu terlihat dari pertemuan tiga partai : Gerindra-PKS-PAN, di markas PKS, saat malam Natal lalu. Hasilnya, mereka kompak koalisi di lima Pemilihan Gubernur. Yaitu, Pilgub Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.

Koalisi ini tidak sebatas taktis menghadapi Pilkada. Bahkan bisa berlanjut hingga Pilpres 2019. Artinya, PAN bisa jadi bakal ngeblok lagi ke Prabowo, sebagaimana Pilpres 2014 lalu. Hal ini, diperkuat pernyataan Presiden PKS, Sohibul Iman.

"Mudah-mudahan bisa terpelihara sampai (Pemilu) 2019. Ini merupakan satu hal yang kami harapkan,"  ujar Sohibul di kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (24/12) malam.

Menurutnya, Pilkada 2018 merupakan batu loncatan meraih sukses di Pemilu 2019.

Ya, salah satunya Pilpres yang sepertinya akan diikuti kembali oleh pertahana, Presiden Jokowi. Politisi PKS ini beranggapan koalisi ini terbukti manjur meraih suara rakyat. Indikatornya, kemenangan Anies-Sandi atas Ahok-Djarot di Pilgub DKI lalu.

Meski demikian, lanjutnya, Pemilu 2019 masih lama. Koalisi masih bisa berubah, tergantung konstelasi politik nasional yang ada. "Nanti untuk perjalanannya tergantung konstelasi politik sampai 2019," ucap Sohibul.

Gayung bersambut, PDIP selaku partai pendukung pemerintah sepertinya dongkol dengan sikap PAN ini. Masalahnya, bukan kali ini saja PAN berseberangan politik dengan Jokowi. Sebelumnya, PAN berbeda sikap soal Perppu Pembubaran Ormas Radikal yang di-keluarkan Presiden Jokowi, Kemudian, PAN juga walk out dari sidang paripurna yang mensahkan RUU Pemilu dengan Presidential Thrteshold 20-25 persen.

"Kami menghargai pilihan PAN. Karena politik itu seni, jadi kami tidak heran jika PAN melakukan strategi dua kaki, hingga karoke (kanan kiri oke), atau zig-zag," ujar Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno, kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Bahkan, Hendrawan mengatakan saat ini pihaknya tidak terkejut lagi dengan langkah zig-zag ala PAN ini. Disebut zig-zag, karena PAN selain masih mendukung Jokowi, juga berkoalisi dengan oposisi di Pilkada 2018 hingga Pemilu 2019.

Tapi, katanya, tindakan PAN ini bukan tanpa konsekuensi politik ke depannya. Menurutnya, pasti ada persepsi dan penilaian dari partai lain pendukung pemerintah, hingga pemilih itu sendiri. Dia berkelakar, sikap PAN ini dipertanyakan. "Berarti PAN pandangan politiknya agak susah di pegang," katanya. "Kalau ngga begitu, bukan PAN namanya," tambahnya.

Sekalipun ada rasa gereget dengan PAN, Hendrawan menegaskan tidak ada yang perlu ditangisi atau disesali atas sikap politik zig-zag ala PAN. Baginya, PDIP dengan PAN terus membangun silaturahmi baik di pemerintahan maupun di Senayan.

"Kita lihat saja nanti, PAN juga kan ada banyak faksi. Di daerah pilkada kita dengan PAN juga banyak yang sukses kok," katanya. "Jadi tidak ada yang perlu disesali dan ditangisi," ulangnya.

Menanggapi ini, Sekjen PAN Eddy Soeparno menyebut terlalu jauh jika strategi taktik di Pilkada 2018 dikaitkan dengan Pilpres 2019. Menurutnya, koalisi ini masih sebatas untuk Pilkada, belum tentu berlanjut di Pemilu 2019.

"Terlalu jauh mengkaitkan Pilkada 2018 dengan Pemilu 2019. Kita pokoknya dari PAN, ngga tahu temen-temen yang lain, bahwa 2018 adalah Pilkada yang berat karena pilgubnya saja ada 17 jadi kita mau fokus dulu deh di Pilkada untuk memenangkan sebanyak mungkin kepala daerah,"  ujar Eddy kepada Rakyat Merdeka, semalam.

"Dari situ kita baru pede untuk maju di Pemilu 2019. Kita baru akan memikirkan pilpres 2019 menjelang Rakernas pan tahun 2018, karena di Rakernas itu akan kita putuskan kemana pan akan menetapkan kandidat untuk Pilpresnya," tambahnya.

Apakah PAN akan mendukung Prabowo di Pilpres 2019? Eddy menjawab diplomatis. "Pokoknya kita lihat bahwa, dari segi proses, kita ngga berani bukan ngga bisa mengaitkan ini dengan Pemilu apalagi Pilpres. Nanti tenaga kita yang terbatas ini ngga akan sanggup menangani hal besar itu," pungkasnya.(aya/mol)
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.