Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab

Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab
Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab

PARA peserta Konferensi Peranakan Arab di rumah Said Bahelul di Kampung Melayu, Semarang, tegang. Suasana perkenalan berjalan canggung, karena sejak lama komunitas Arab mengalami konflik yang dipicu strata sosial antara sayid dan non-sayid. Sayid, atau disebut juga alawi, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad dan karenanya membuat mereka merasa istimewa. Abdul Rahman (AR) Baswedan mencairkan suasana dengan mengajukan jalan tengah.

“Solusi sederhananya panggil semua Arab dengan ‘saudara’ atau al-akh. Tidak peduli alawi atau non-alawi you are my brother,” ujar Samhari Baswedan, anak kesebelas AR Baswedan. Kompromi tersebut mendapat sambutan baik.

Konferensi Peranakan Arab, yang dimulai pada 3 Oktober 1934, dihadiri sekira 40 orang Arab peranakan dari Arrabitah, organisasi pro sayid, dan Al-Irsyad, organisasi non-sayid. Mereka berasal dari Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Jakarta.

Di hari kedua, ketegangan kembali muncul karena hasutan dan provokasi, sampai-sampai ada peserta yang membawa pistol. Menurut Suratmin dalam Abdul Rahman Baswedan Karya dan Pengabdiannya, debat sengit terjadi ketika AR Baswedan menguraikan prasaran dengan pokok utama tanah air Arab peranakan adalah Indonesia. Namun akhirnya semua sepakat.

Para peserta konferensi kemudian mendeklarasikan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab: tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri; peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Semua peserta juga sepakat menamai 4 Oktober sebagai Hari Kesadaran Arab-Indonesia.

Pada hari ketiga, rapat memutuskan membentuk organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI), dengan AR Baswedan terpilih sebagai ketua. Tujuannya menyatukan seluruh Arab peranakan (muwallad) dengan keanggotaan terbuka bagi setiap Arab yang lahir di Indonesia. Sedangkan Arab totok (wulaiti) boleh diterima sebagai anggota luar biasa, penyokong atau donatur dengan tidak mendapat hak suara.

“Keempatpuluh partisipan menyetujui dengan bulat bahwa dasar organisasi ini adalah pengakuan bahwa Indonesia merupakan tanah air mereka, bukan Hadramaut,” tulis Natalie Mobini Kesheh dalam Hadrami Awakening, Kebangkitan Hadhrami di Indonesia.(anya/his)
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.