PBB Tetapkan 9 Agustus Hari Pribumi Internasional, Kenapa Ahoker Stress dan Ketakutan?

PBB Tetapkan 9 Agustus Hari Pribumi Internasional, Kenapa Ahoker Stress dan Ketakutan?
PBB Tetapkan 9 Agustus Hari Pribumi Internasional, Kenapa Ahoker Stress dan Ketakutan?
Sumber: un.org peringatan hari Pribumi Internasional

Peneliti LSI Denny JA mengatakan kata 'pribumi' dalam pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi sensitif karena adanya kesadaran kolektif mayoritas menyusun perjuangan ekonomi dan politik. Longgarnya definisi kata 'pribumi' serta adanya problem ekonomi dan politik menyebabkan kata tersebut menjadi sensitif.

"Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan 'pribumi' sebagai penghuni asli, yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Dalam bahasa Inggris, ia diterjemahkan sebagai indigenous people," kata Denny dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Rabu (18/10/2017).
Denny mengatakan PBB selaku lembaga tertinggi dunia, sejak 1994, menetapkan hari internasional bagi rakyat pribumi di seluruh dunia. Hari itu jatuh pada 9 Agustus. Menurutnya, di situlah momen kaum pribumi di seluruh dunia merayakannya, sekaligus mendiskusikan kondisinya.

"Di Indonesia, kata 'pribumi' juga bahkan menjadi nama sebuah organisasi resmi di Indonesia. Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi). Pada 2015, bahkan pemerintahan Jokowi, yang diwakili Wakil Presiden Jusuf Kala, juga menghadiri acara pengusaha pribumi itu," sebut Denny.

"Pertanyaannya, mengapa hak kaum pribumi yang justru dirayakan oleh dunia, dan di Indonesia sendiri ada organisasi resmi menggunakan kata 'pribumi', seperti Hippi, kini menjadi begitu sensitif di Jakarta atau Indonesia, ketika Anies Baswedan mengutipnya dalam pidato?" tambahnya.

Penyebabnya adalah longgarnya definisi kata 'pribumi' serta adanya problem ekonomi dan politik dengan kata 'kaum pribumi.'

"Jika pribumi didefinisikan sebagai melayu muslim, mereka mayoritas dalam jumlah, tapi merasa minoritas dalam penguasaan ekonomi. Dan kini mereka mulai khawatir pula dominasinya dalam politik terancam. Kesadaran kolektif ekonomi-politik kaum pribumi ini yang memang sensitif karena konteks ekonomi-politik Indonesia," jelas Denny.

Denny memandang publik Indonesia harus berani membongkar lebih jauh dan membahas ekonomi-politik pribumi itu secara dingin, rasional, dan ilmiah. Hal ini lebih baik daripada masalah tersebut dipendam.

"Apa yang harus dilakukan? Inilah pertanyaan penting. Memilih tidak membicarakan soal ekonomi politik 'kaum pribumi' demi sopan santun politik, sementara ada kegelisahan yang riil di bawah permukaan, itu bukan pilihan cerdas," imbuhnya.

Percakapan publik yang hangat dan ilmiah dalam membahas kata 'pribumi', dipandang Denny, dapat dilakukan dalam 3 hal. Pertama, tidak boleh ada diskriminasi terhadap warga dengan etnis dan agama apa pun. Semua warga negara memiliki hak dan perlindungan hukum yang sama.

"Kedua, tak boleh ada kekerasan di ruang publik. Aparat hukum harus berani dan tegas untuk menindak aneka kekerasan fisik ataupun ujaran kebencian. Ketiga, ketimpangan ekonomi yang tajam, apalagi jika bertumpang-tindih dengan identitas etnik atau agama, di seluruh dunia, akan menjadi bara api sebuah negara," paparnya.

"Hikmah kontroversi soal pidato Gubernur DKI Anies Baswedan mungkin menjadi picu untuk percakapan di ruang publik secara dingin mencari solusi bersama. Saatnya ruang publik kita diisi oleh percakapan visioner, dengan riset, data, argumen, dan studi komparatif," pungkasnya.

Ada apa dibalik ketakutan para Ahoker dibalik kata "PRIBUMI" yang disampaikan melalui pidato oleh Gubernur Jakarta terpilih Anies Baswedan.Bukankah seharusnya sebagai bangsa Indonesia kita malah bangga dengan kata pribumi.Sedangkan PBB saja menetapkan tanggal 9 Agustus sebagai hari Pribumi Internasional yang harus di peringati setiap tahunnya.Kenapa malah direjim Jokowi menjadi sesitif dan membuat para Ahoker menjerit , stress dan ketakutan dengan kata PRIBUMI?.






Berikut cupilkan peringatan hari Pribumi International oleh PBB tahun 2017 atau tahun ini.

Baca : Terungkap, Pelapor Anies Jack B Lapian Gunakan Alamat Palsu

Pada tanggal 23 Desember 1994, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan bahwa Hari Penduduk Asli Sedunia harus diobservasi pada tanggal 9 Agustus setiap tahun. Tanggal tersebut menandai pertemuan pertama Kelompok Kerja PBB untuk Penduduk Asli / Masyarakat Adat pada tahun 1982.

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia tahun ini akan diperingati pada hari Rabu, 9 Agustus di UNHQ di New York mulai pukul 06.00 sampai 18.00 di Kamar ECOSOC.

Tahun ini sangat penting, karena ini merupakan peringatan kesepuluh dari adopsi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Masyarakat Adat (UNDRIP), dan pada saat yang sama menjadi tema acara tersebut. Seorang latar belakang pada peringatan kesepuluh UNDRIP sekarang tersedia dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan Rusia.

Sumber: **https://www.un.org/development/desa/indigenouspeoples/international-day-of-the-worlds-indigenous-peoples/idwip17.html
              **http://www.un.org/en/events/indigenousday/

(anya/detik/uno.rg)
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.