Kerusuhan Berdarah Referendum Catalan Terjadi di Jalanan Barcelona

Kerusuhan Berdarah Referendum Catalan Terjadi di Jalanan Barcelona
Kerusuhan Berdarah Referendum Catalan Terjadi di Jalanan Barcelona

Jakarta -Pemungutan suara alias referendum Catalan berpisah dari Spanyol dan menjadi negara yang merdeka di alun-alun Barcelona, berujung kerusuhan berdarah.

Banyak warga yang ikut dalam pemilihan itu menderita luka-luka akibat diserang petugas kepolisian Spanyol.

Seperti dikutip Express.co.uk, Minggu 1 Oktober 2017, korban luka akibat dipukul dan ditembak dengan peluru karet. Bahkan, petugas kepolisian setempat juga melepaskan granat api ke kerumunan massa yang ingin mengikuti jajak pendapat itu.

Kepolisian setempat terpaksa membubarkan massa yang ikut jajak pendapat karena pemerintah Spanyol menganggap referendum itu sesuatu yang ilegal dan harus dibubarkan. Saat kerusuhan terjadi, reporter Sky News, Marks Stone, sempat terjebak di tengah kondisi menakutkan itu.

Menurut Stone, para pemilih Catalan awalnya hanya menggelar demonstrasi damai dengan cara duduk-duduk untuk memblokir jalan agar polisi anti-huru hara bergerak setelah mereka mengambil surat suara.

Namun di tengah sebuah wawancara dengan seorang pemilih, yang memuji "demonstrasi damai demokrasi," tiba-tiba polisi Spanyol menerobos kerumunan dengan pentungan .

Ledakan dan jeritan terdengar di rekaman televisi yang mengejutkan saat kekacauan terjadi di jalanan. Terutama saat polisi menembakkan peluru karet dan melepaskan granat api.

Seorang anggota parlemen Israel, yang berada di kota tersebut sebagai pemantau suara internasional, mengatakan bahwa dia melihat banyak orang-orang berdarah akibat tembakan di kepala.

"Kami melihat banyak orang damai yang tidak bersenjata dan kami melihat polisi menembaki peluru pada mereka. Tampaknya ini akan meningkat, saya sama sekali tidak mengharapkan hal ini dari demokrasi Eropa," kata anggota parlemen Israel itu.

Seorang pemilih lokal yang juga terperangkap dalam huru-hara tersebut mengatakan kepada Sky News bahwa Pemerintah Spanyol tidak memikirkan demokrasi.

Kekacauan seputar pemungutan suara yang kontroversial hari ini telah membuat negara ini memasuki krisis konstitusional terburuk dalam beberapa dasawarsa. Insiden lain telah melihat pria dan wanita lanjut usia yang dibawa petugas jauh dari lokasi pemungutan suara. (arya/viv)
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.