[Vidio] Film "Aku Kamu Adalah Kita" TAMPAR Film SARA 'Aku Adalah Kamu Yang Lain'

[Vidio] Film "Aku Kamu Adalah Kita" TAMPAR Film SARA 'Aku Adalah Kamu Yang Lain'


Jakarta, Kabarsatu --Netizen bernama Ahmad Zaki akhirnya mempublikasikan Film pendek versi full dengan judul "Aku Kamu Adalah Kita" dengan durasi 7:34 menit.

Melalui film pendek "Aku Kamu Adalah Kita", Zaki ingin menyampaikan pesan kepada publik bahwa Islam merupakan agama yang paling toleran.

Islam tidaklah seperti apa yang digambarkan oleh film bermuatan sara yang diunggah oleh Institusi resmi kepolisian Divis Humas Polri lewat media sosial.Dimana film yang diunggah oleh humas polri sangat menyudutkan dan menghina umat islam.Didalam vidio unggahan humas polri digambarkan umat islam adalah agama yang sadis dan tidak toleransi.

Film sara yang disebarkan oleh polisi bertolak belakang dengan fakta sesungguhnya.Dapat di katakan film tersebut adalah pembalikan fakta dengan opini sesat menyudutkan agama islam.Sangat di sayangkan Institusi resmi kepolisian yang seharusnya bertugas memberantas sara justru terjebak ikut menyebar SARA.



Untuk menjawab kebohongan  film sara "Aku Adalah Kamu Yang Lain' yang diunggah oleh Humas Polri. Umat islam perlu meluruskan fakta sesungguhnya tentang umat islam.Untuk itulah film  kebhinekaan "Aku Kamu Adalah Kita" perlu dibuatkan agar dunia melihat, tahu inilah kondisi sesungguhnya yang terjadi di indonesia.

"Saya dedikasikan kepada Seluruh Muslim di seluruh Indonesia dan Seluruh dunia. Islam adalah Agama yang Paling Toleran apalagi jika menyangkut masalah kemanusiaan. Karena Rahmatan Lil Alamin adalah Fitrah kaum muslimin" tulis Zaki di akun Facebook pribadinya, rabu(5/7/2017).

Khusus untuk film pendek "Aku Kamu Adalah Kita" menamapakan dirinya sebagai Zaki Dispenser. "Salam Hormat dari saya Ahmad Zaki, Halaman Bang Zaki, alias #ZakiDispenser (kadang Hot kadang Cold )" papar Zaki.

Film "Aku Kamu Adalah Kita" menceritakan tentang akhlak seorang Muslim kepada siapa saja yang ada disekelilingnya.

Pada awal cerita nampak adegan antrian tunggu dalam sebuah rumah sakit. Seorang muslimah bercadar sedang mendampingi sang suami berobat. Saat menunggu panggilan dokter, pasangan suami istri ini membagikan roti kepada pasien lain yang sedang menunggu.

Kemudian adegan flashback sepekan sebelumnya tentang ambulans yang membawa seorang pria dalam kondisi kritis. Ambulans kemudian melewati jalan yang sedang digelar Tabligh Akbar. Dengan penuh ramah petugas keamanan Tabligh Akbar mempersilahkan mobil ambulance untuk lewat.


Beberapa saat kemudian panitia mendekati ambulance dan mempersilahkan ambulance untuk melewati acara Tabligh Akbar tanpa ada halangan sedikitpun. Bahkan salah satu petugas keamanan Tabligh Akbar yang berseragam putih-putih FPI langsung memberitahukan kepada Ustadz bahwa ada ambulance mau lewat dan meminta jamaah untuk memberikan jalan.

Adegan kemudian kembali ke antrian pasien, tiba-tiba seorang pria membawa anaknya yang kritis masuk antrian Poli Umum dan mendapatkan antrian 38. Merasa sang anak kritis, pria tersebut minta diberi kompensasi untuk didahulukan, namun petugas rumah sakit meminta untuk antri.

Ditengah perdebatan, tiba-tiba pasangan suami istri memberikan antrianya dengan nomor 15 untuk digunakan. Sang pria yang membawa anak kritis itupun mengucapkan terima kasih.

Beberapa saat kemudian muncul dokter berhijab menyarankan kepada Pria yang membawa anaknya jika dalam kondisi kritis jangan mengantri ke Poli Umum, namun langsung ke IGD agar langsung ditangani.

Menjelang Film selesai muncul pesan dari Nelson Mandela yang berbunyi :"Tidak ada seorang pun dilahirkan untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, maupun agamanya. Kalau mereka bisa diajar untuk membenci, maka mereka bisa diajar untuk mencintai. Karena cinta datang lebih alami ke dalam hari manusia daripada sebaliknya".

Dilanjutkan pesan dari Aa Gym yang berbunyi :"Semua ciptaan Allah, bangsa-bangsa ciptaan Allah, kita tidak bisa memilih. Maka diharapkan menambah keyakinan kepada Allah. Kemudian kita tidak boleh melampaui apa yang Allah kerjakan".

Kemudian pesan KH Didin Hafiduddin yang berbunyi : "Jangan dipaksakan saling menyatakan agama lain itu sama, dan kita dipaksa mempertemukan perbedaan, itu salah dan jadi masalah. Dalam Islam sudah jelas bahwa tidak ada paksaan dalam agama".

Dan Diakhir film muncul pesan dari Iman Surahman : "Berjamaah untuk kebaikan, saling tolong-menolong untuk kemuliaan, dimulai dari sadarnya akan perbedaan".[ismed/fatur]

Berikut ini film pendek "Aku Kamu Adalah Kita"

Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.