Ajaib, Beda dari Tuntutan, Nama Setya Novanto dan Sederet Anggota DPR Lenyap di Vonis e-KTP

Ajaib, Beda dari Tuntutan, Nama Setya Novanto dan Sederet Anggota DPR Lenyap di Vonis e-KTP


Jakarta, Kabarsatu --Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai tersangka korupsi proyek pengadaan kartu identitas elektronik (e-KTP).

"KPK tetapkan saudara SN (Setya Novanto), anggota DPR RI sebagai tersangka karena diduga dengan menguntungkan diri sendiri atau korporasi. Sehingga diduga merugikan negara sekurangnya Rp 2,3 triliun," jelas Ketua KPK Agus Rahardjo dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta (Senin, 17/7).

Novanto pekan lalu menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK terkait korupsi e-KTP.  Dia diduga kuat berperan dalam proses penganggaran atau pengadaan barang dan jasa dalam proyek di Kementerian Dalam negeri tersebut saat duduk di Komisi II DPR.

Ketua umum Partai Golkar tersebut juga diduga telah mengkondisikan pemenang tender proyek e-KTP.

Agus menambahkan, Novanto dijerat pasal 3 atau pasal 2 ayat 1 UU Tipikor junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menyatakan pihaknya telah menerima surat keterangan penetapan tersangka Ketua Umum Golkar Setya Novanto dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (19/7/2017) ini.

"Pak Setya Novanto menyampaikan kepada saya bahwa surat secara resmi keputusan penetapan Setya Novanto sebagai tersangka KPK tertanggal 17 Juli 2017 itu sudah diterima Setya Novanto," ujar Idrus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Ajaib tiba-tiba nama Setya Novanto dan sederetan Anggota DPR Lenyap di Vonis e-KTP pada daftar nama-nama yang dinyatakan menerima aliran dana tersebut berdasarkan analisa yuridis dalam putusan dengan dakwaan Kamis (20/7/2017).

Berikut perbandingan nama-nama yang disebut ikut menerima aliran dana tersebut berdasarkan analisa yuridis dalam putusan dengan dakwaan yang dilansir detikcom

Pihak lain yang memperoleh keuntungan proyek e-KTP seperti dalam putusan terhadap Irman dan Sugiharto yang dibacakan pada sidang, Kamis (20/7/2017):

1. Miryam S Haryani sebesar USD 1,2 juta
2. Diah Anggraeni sebesar USD 500 ribu
3. Markus Nari USD 400 ribu atau Rp 4 miliar
4. Ade Komarudin USD 100 ribu
5. Hotma Sitompul USD 400 ribu
6. Husni Fahmi USD 20 ribu dan Rp 30 juta
7. Drajad Wisnu Setyawan USD 40 ribu dan Rp 25 juta
8. Enam orang anggota panitia lelang masing masing 10 juta
9. Beberapa anggota tim Fatmawati masing masing Rp 60 juta
10. Manajemen bersama konsorsium PNRI 137,989 miliar
11. Perum PNRI Rp 107.710.849.102
15. PT Sandipala Arthaputra Rp 145.851.156.022
16. PT Mega Lestari Unggul Rp 148.863.947.122
17. PT Len industri Rp 3.415.477.799
18. PT Sucofindo Rp 8.231.289.362
19. PT Quadra Solution Rp 79 miliar.[setik/kompas/fatur]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.