Serangan Teroris di AS Paling Banyak Oleh Sayap Kanan Bukan Ekstrims Islam

Serangan Teroris di AS Paling Banyak Oleh Sayap Kanan Bukan Ekstrims Islam
Serangan Teroris di AS Paling Banyak Oleh Sayap Kanan Bukan Ekstrims Islam
Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump


New York, Kabarsatu --Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump  bersumpah untuk bersikap keras terhadap "terorisme radikal Islam." Dia telah mencoba menerapkan larangan bepergian yang melarang orang-orang dari enam negara berpenduduk mayoritas Muslim memasuki A.S. dan telah sering menge-tweet tentang serangan teroris Islam di seluruh dunia. Pada hari Kamis, sebuah laporan baru mengklaim bahwa presiden trump memiliki fakta yang kacau dan terkesan di sembunyikan dari fakta aslinya.

Dilaporkan oleh newsweek.com 6/22/2017,Sebuah proyek gabungan oleh Investigative Fund di Nation Institute. Sebuah pusat media nirlaba, dan Pusat Pelaporan Investigasi Mengungkapkan temuan fakta-fakta ilmiah.Bahwa dalam sembilan tahun terakhir, Serangan teroris oleh ekstremis sayap kanan yang terencana atau telah melakukan serangan teroris di Amerika hampir dua kali lebih banyak serangan teroris sebagai kelompok Islam Ekstrims. Dari 115 insiden teroris yang dilakukan oleh sayap kanan, polisi hanya bisa menggagalkan sekitar 35 persen saja. Bila dibandingkan dengan 63 kasus terorisme Islam, di mana polisi berhasil menggagalkan 76 persen serangan yang direncanakan.

Serangan teroris oleh ekstremis sayap kanan tidak hanya lebih berhasil, mereka juga lebih mematikan. Dari tahun 2008 sampai 2016, sepertiga dari serangan sayap kanan melibatkan kematian dari  korban jiwa, dibandingkan dengan 13 persen serangan Islam. Meskipun kematian oleh serangan ekstremis Islam lebih banyak orang secara keseluruhan, dengan jumlah korban tewas 90 orang dibandingkan dengan serangan teroris oleh sayap kanan sebanyak 79 orang.

Ini merupakan sebuah fakta yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi serangan teroris sayap kanan yang sukses melakukan aksi teroris mereka di Amerika,
Investigative Fund mengatakan: "Proyek ini mengkuantifikasi betapa tidak rasionalnya Trump dan fiksasi GOP dalam menelekan 'terorisme radikal Islam' sebagai ancaman keamanan terbesar."

Trump cenderung diam dan loyo terhadap serangan teroris sayap kanan yang terjadi di Amerika. Sampai saat ini Presiden Trump belum mengakui masalah kekerasan yang diakukan oleh sayap kanan,Seperti peristiwa serangan teroris terhadap isgris yang terjadi belakangan ini Trump malah diam dan pura-pura tidak tahu  terhadap  serangan islamofobia di sebuah masjid di London yang membuat satu orang tewas.

Masalahnya menurut Investigative Fund and Reveal, adalah Dimana hari-hari Trump dipenuhi oleh penasehat-penasehat kepresidenan istana oleh para anti islam.Orang-orang yang anti islam inilah yang membisikan perihal negatif tentang islam dimata Trump.

Salah satu penasehat anti islam istana Trump adalah Letnan Jenderal Michael Flynn, dimana mantan penasihat keamanan nasional yang adi penasehat trump tersebut menuduh dan , mengatakan bahwa "ketakutan akan Muslim itu rasional," dan bahwa dia tidak "melihat Islam sebagai agama." Penasihat Trump yang anti islam Steve Bannon juga  menyebut Islam sebagai " Agama penyerahan, "dan diyakini telah menjadi dukungan kuat untuk melarang negara-negara tertentu memasuki AS (Sebagai mantan kepala Breitbart News, Bannon menyombongkan bahwa organisasi tersebut adalah" platform untuk alt-right. ")

Reveal and Investigative Fund mengatakan bahwa pemerintahan Trump tidak profesional Karena hanya fokus pada aksi  ekstremis Islam. Hal ini terbukti  dari  dua organisasiresmi pemerintah  otoritas federal 91 persen difokuskan untuk ektrims Islami dan hanya 60 persen fokus untuk penanganan aksi teroris oleh sayap kanan.[ newsweek.com/fatur]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.