Megawati Sebut Ada Upaya Desoekarnoisasi

Megawati Sebut Ada Upaya Desoekarnoisasi
Megawati Soekarno Putri
Megawati Soekarno Putri 


Jakarta, Kabarsatu  -- Putri sulung Bung Karno yang juga Presiden ke lima, Megawati Soekarno Putri menyadari adanya pihak-pihak yang tidak ingin ajaran Soekarno bertahan di bangsa ini. Ia menyebut istilah upaya desoekarnoisasi yang meminimalisir peran dan ajaran Bung Karno tetap bertahan.

Upaya desoekarnoisasi itu terjadi sejak 1967 sampai 1993 hanya karena dituduh terlibat G30S/PKI. Dan belakangan upaya ini muncul kembali. Ia mengenang bagaimana kuatnya upaya pemerintah Orde Baru menekan Soekarno pada saat itu.

Bahkan ketika kuliahpun Megawati mengaku harus dikeluarkan hanya karena menjadi anak biologis Soekarno. Pada 1993, kata dia, seorang perwira pernah bertanya kepadanya, bagaimana menurut anda orang yang bernama soekarno, apakah ia seorang pengkhianat?

Ia menjawab, bahwa tahu betul ayahnya bukanlah seorang pengkhianat bangsa. Maka bila sekarang masih ada yang ingin menghilangkan peran Bung Karno atau desoekarnoisasi, ia tegaskan hal itu tidak akan terjadi lagi.

"Saya yakin peran Bung Karno itu tidak akan pernah hilang dari sejarah bangsa ini. Karena beliau bukan hanya milik bangsa indonesia saja," kata Megawati saat Haul (peringatan hari wafat) Bung Karno ke 47 di Gedung Nusantara IV MPR RI, Rabu (21/6).

Ia cukup heran mengapa masih ada pihak-pihak yang berusaha mengkerdilkan bangsanya sendiri. Padahal Bung Karno diakui jasa dan perjuangannya di banyak negara-negara dunia. Bahkan di KAA (Konferensi Asia Afrika), dimana peran Bung Karno dan toko negara Asia Afrika lain cukup besar, kini telah menjadi warisan dunia di PBB.

Inilah yang membuat Megawati siap dilibatkan kembali oleh Presiden Joko Widodo dalam Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

"Buat Pancasila saya ditaruh dimana saja, saya berterima kasih. Saya hanya ingin mengguggah kita semua, polemik ini apakah akan terus dilanjutkan," jelas Megawati.

Secara pribadi melalui PDI Perjuangan ia pun meminta ke Presiden Jokowi mengakui 1 juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Dan dengan hasil desertasi dari Ahmad Basarah, terkait 'Bung Karno, Islam dan Pancasila' maka akan memperkuat landasan ilmiahnya, bahwa apa yang dibuat Soekarno adalah tepat untuk bangsa ini.[rol/mmc]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.