Harga Listrik Indonesia Tertinggi di ASIA dan Negara Maju Amerika

Harga Listrik Indonesia Tertinggi di ASIA dan Negara Maju Amerika


Jakarta (kabarsatu) - Keputusan pemerintah untuk tidak menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sesuai dengan penurunan harga minyak mentah di dunia berdampak pada mahalnya harga jual BBM di dalam negeri.

Direkrut Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng menuturkan, saat ini harga BBM di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Bahkan, apabila dibandingkan dengan harga BBM di Malaysia.

"Harga BBM kita itu tertinggi di ASEAN. Masyarakat dibebankan dengan keputusan pemerintah.
Seharusnya pemerintah juga menurunkan harga BBM mengikuti harga perekonomian," ujarnya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Seperti dikutp dari okezone.com

Tak hanya itu, tarif listrik tegangan rendah yang pada Desember lalu turun dari Rp1.509,38 menjadi Rp1.409,16 per kWh masih terlalu mahal dibandingkan dengan tarif listrik di negara-negara Asia Tenggara.

Hal ini dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi pelaku usaha di dalam negeri dalam menghadapi persaingan dalam masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).

"Listrik kita juga tertinggi di ASEAN. Ini karena utang PLN yang besar. Bahkan suku bunga kredit kita juga tertinggi. Kalau ini tetap berlangsung, kita akan kalah saing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya," tandasnya.

Sementara itu menurut Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono Pemerintah gagal mengendalikan kartel energi, sehingga harus mencabut subsidi listrik 900 volt ampere dan mengorbankan 18,7 juta pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang umumnya masyarakat miskin.

“Tarif listrik seharusnya tidak perlu naik kalau pemerintah serius kendalikan spekulan atau kartel energi. Ini bukti kegagalan pemerintah mengendalikan kartel,” kata Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono, dalam keterangannya, Jumat, 16 Juni 2017 seperti dikutip dari viva.co.id

Dia mengungkapkan, kartel tersebut justru bisa mengendalikan pemerintah melalui Kementerian ESDM karena mereka menguasai 80 persen pasokan listrik PLN sebagai independent power producer (IPP). Adapun, PLN hanya memproduksi 20 persen listrik.

"BUMN seharusnya mengaplikasikan pasal 33 UUD 1945, tetapi ini tidak. Listrik kita umumnya pakai batu bara yang ditambang dari permukaan tanah, tetapi harganya lebih mahal dari negara lain yang tidak punya batu bara,” ungkapnya.

Seperti diketahui, harga listrik di Indonesia US$11 sen/kWh, atau lebih tinggi dari negara sekelas Amerika Serikat (US$3 sen/kWh), Eropa dan Korea Selatan (keduanya US$6 sen/kWh).
Sementara itu, untuk sesama negara Asia, harga listrik di Bangladesh 'hanya' US$3 sen/kWh, Malaysia US$6 sen/kWh, Vietnam US$7 sen/kWh dan Kamboja US$9 sen/kWh.

Bambang menilai pencabutan subsidi listrik 900 VA ini juga mengakibatkan multiplier effect yang panjang sehingga kelompok masyarakat miskin semakin terpuruk.

Perlu diketahui, pencabutan subsidi listrik juga akan memukul sektor usaha mikro dan kecil seperti penjual bakso. Sebab, jumlah UMK yang menikmati listrik 900 VA sebanyak 50 persen.

Dampak lainnya adalah muncul masalah keamanan, terutama di perkampungan yang belum tersedia penerangan jalan umum oleh PLN. "Jelas, kartel energi menyebabkan harga listrik mahal dan lebih kejam dari kartel pangan. Presiden Jokowi harus berani membenahi masalah ini,” ucap Bambang.[viva/okzone/fatur]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.