Garuda Terancam Bangkrut, PDIP Salahkan Masa Lalu

Garuda Terancam Bangkrut, PDIP Salahkan Masa Lalu


Jakarta (kabarsatu) --Ancaman kebangrutan maskapai penerbangan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Garuda Indonesia dinilai sebagai akibat dari kesalahan manajemen masa lalu.

"Ada salah management dari manajemen lama yang akibatnya lebih terasa saat ini," kata Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto di Kompleks Parlemen Jakarta, tadi malam, Rabu (14/06).

Politisi PDI Perjuangan ini menduga adanya perilaku koruptif, inefisiensi dan salah strategi yang dilakukan oleh manajemen lama Garuda. Hal itulah menurutnya yang menyebabkan pemasukan Garuda tak mampu menutupi hutang yang kian membengkak.  Utamanya hutang jangka pendek.

Dimana utang jangka pendek Garuda hanya dalam beberapa bulan ditahun 2017 naik Rp.1.73 triliun dari tahun 2016 yang hanya sebesar  Rp.9.37 triliun.

"Di kuartal I tahun 2017 sudah menjadi Rp11.1 triliun atau naik 1.73 triliun. Kenaikan utang itu terjadi hanya dalam hitungan bulan," jelasnya.

Darmadi kemidian mendesak manajeman Garuda saat ini untuk segera membenahi diri dari perilaku koruptif dan inefisiensi.

"Jika tidak diperbaiki kinerjanya. Maka Garuda terancam bangkrut. Kekuatan hanya tinggal brand name Garudanya saja, sehingga walaupun harga tiketnya mahal tetapi masih diminati oleh masyarakat, dari sisi kelemahan terlihat sangat banyak, dari sisi Ancaman sudah sangat tinggi terutama dari ancaman  pesaing seperti Batik (Lion group )yang terus menggerus pasar Garuda. Sementara Garuda tidak bisa mengambil peluang pasar yang ada," urainya.

Pemetaan Matriks SWOT menurut dia harusnya dijadikan sebagai acuan bagi Garuda dalam menjalankan strategi pemyelamatan perusahaan yakni strategi turn around. Dimana kata dia salah satu syarat turn around adalah pemimpin yang kuat. Pemimpin yang kuat bersama manajeman yang solid dan kuat pula katanya akan bisa melakukan penyelamatan perusahaan dengan cara kreatif. Tapi, hal itu menurutnya tidak ada di Garuda.

"Nah disinilah letak permasalahan di Garuda saat ini. Team manajemen lagi kurang solid dan kuat, Ditambah pemilihan dirut yang kurang pas," sesalnya.

Dirut Garuda yang saat ini, ungkapnya, berasal dari bank Mandiri. Karena datang dari salah satu bank terbesar di Indonesia yang biasa mengelola perusahaan-perusahaan besar, maka dia menduga karakter Bigness Mentality masih menempel dalam personality orang itu.

"Saat di Bank Mandiri beliau sudah ada di level "comfort zone", tantangan berat buat Dirut yang baru ini untuk menyelamatkan Garuda. Padahal sekarang Garuda benar-benar membutuhlan pemimpin yang Service oriented dan berani menjalankan creative destruction. Untuk menjadi nahkoda Garuda dibutuhkan orang yang bisa melakukan efisiensi tanpa menguramgi kualitas pelayanan. Dan harus bisa melakukan turn around strategy dengan efektif," tukasnya.[rol/fatur]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.