Tersinggung Dengan Puisi Panglima TNI, PDIP Sebut Enggak Usah "Genit" dan Ikut Berpolitik

Tersinggung Dengan Puisi Panglima TNI, PDIP Sebut Enggak Usah "Genit" dan Ikut Berpolitik


Jakarta (kabarsatu)  - Anggota Komisi III asal Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengkritik Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang membacakan sebuah puisi yang menggambarkan keprihatinan atas situasi negara.

Masinton mengingatkan Gatot fokus melakukan tugasnya terkait fungsi pertahanan negara.

"Sudahlah, fokus saja kepada tupoksi sebagai alat pertahanan. Enggak usah berpolitik. (Gatot) Enggak usah genit-genit dalam berpolitik," ujar Masinton, seusai menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Rabu (24/5/2017).

Ia mengatakan, apa yang dilakukan Gatot tak akan dipermasalahkan jika ia sudah pensiun.

"Setelah Beliau pensiun nanti, itu hak beliau sebagai warga negara. Mau nyalon jadi apapun, terserah dia, itu monggo. Tapi sekarang kan posisi masih Panglima TNI. Jadi enggak usah cawe- cawe deh," ujar Masinton.

Masinton mengatakan, akan menjadi preseden buruk jika ada anggota militer aktif yang melakukan manuver politik.

"Pesan saya, jangan mengulangi masa orde baru," ujar Masinton.

Baca puisi Denny JA

Pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Balikpapan, Senin (22/5/2017) lalu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo membacakan sebuah puisi berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya' karya Denny JA.

Berikut sedikit penggalan puisi yang dibacakan Gatot tersebut:

"Sungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke sini. Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah. Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya. Dari dada burung Garuda, ia melihat desa. Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia."

"Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya. Sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya. Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling. Desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya. Lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata. Ramai pasarnya, tapi bukan kami punya. Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang. Oh makmurnya, tapi bukan kami punya."

Gatot mengatakan, ancaman yang sangat nyata dari puisi yang dibacakannya adalah ancaman migrasi penduduk yang sudah terjadi di sejumlah negara.

"Saya ingatkan bahwa sekarang ini yang paling berbahaya adalah migrasi. Migrasi itu bukan pengungsian," ujar Gatot, di kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Kementerian Dalam Negeri, Jalan Taman Makam Pahlawan Nomor 8, Jakarta Selatan, Rabu (24/5/2017).

Ia mengatakan, manusia tidak mengenal batas, selalu mencari tempat yang lebih baik, lebih menjanjikan.[kompas/fatur]
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.