Kabarsatu

Maryadi Alias Ocu Yadi Relawan BEJO Penghina Ustadz Abdul Somad, Akhirnya Meminta Maaf

Kabarsatu- Netizen geram dan marah dengan viralnya postingan akun Facebook Ocu Yadi nama asli Maryadi  yang  menghina Ustadz Abdul Somad.

Dalam postingan itu, akun Ocu Yadi membagikan postingan akun Facebook Saripah Saripah, yang memasang foto Ustadz Abdul Somad dengan kalimat provokatif.

Walhasil, Netizen pun geram dan marah hingga mencari dan menelusuri siapa pemilik akun Facebook Ocu Yadi.

Belakangan diketahui, pemilik akun Facebook Ocu Yadi adalah Maryadi, warga Tapung, yang mengajar di MTS Batu Belah, Kampar.

Merasa dirinya sedang menjadi DPO umat islam Ocu Yadi pun gelisah dan trauma.Sebelum ditangkap oleh umat Ocu Yadi pun mengabil iniasiatif dan minta maaf kepada umat serta ustad Somad dengan cara mendatangi Ketua Gerakan Pemuda Ansor Riau.

Permintaan maaf Ocu Yadi dimuat yang dimuat akun Facebook Mas Purwaji (Ketua Gerakan Pemuda Ansor Riau) pada Senin (11/12/2017) pukul 12.46.

Dalam kolom komentar postingan itu, akun Facebook Mas Purwaji menyebutkan, akun Facebook Ocu Yadi sudah ditutup dan Maryadi mengaku tidak akan pakai Facebook lagi, karena sudah trauma jadi DPO umat islam.

Mas Purwaji juga menyebutkan, Maryadi sudah ke Pekanbaru mencari Ustadz Abdul Somad untuk meminta maaf secara langsung dan minta difasilitasi oleh pihaknya.

Ia juga menyebutkan, Ustadz Abdul Somad sudah memaafkan Maryadi.



"Saya menghormati sikap beliau dan insyaAllah akan langsung meminta maaf ke Ustad Somad. Saya minta kita semua menahan diri menjaga dari tindakan yang tidak diinginkan oleh UAS. Beliau sudah beritikad baik, siapapun pasti pernah salah. Ayolah, berbesar hati kita maafkan," tulisnya.

Meski sudah minta maaf begini tanggapan netizen yang marah dan geram atas kelakuan buruk sang penghina Ustad tersebut:





(aya/tbn)

VIDEO: Terharu.. Demi Bangsa, Ustadz Somad Kepedalaman Terpencil Ajarkan Bagaimana Mencinta NKRI

Kabarsatu- Ribuan umat Islam memadati Masjid An-Nur di Jalan Diponegoro Denpasar sejak sore hari kemarin. Mereka berduyun-duyun datang untuk mendegarkan tausiah Ustaz Abdul Somad.

Bahkan, meski acara yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW itu digelar pukul 20.00 WITA, warga Muslim Kota Denpasar sudah memadati areal masjid sejak sore hari. Saking antusiasnya, mereka sampai membludak hingga ke jalan raya. Polisi menutup akses jalan menuju Masjid An-Nur.

Ustaz Abdul Somad sendiri tiba di lokasi sekira pukul 20.10 WITA. Ia berangkat dari Hotel Aston Denpasar yang tak begitu jauh dari Masjid An-Nur.

"Umat membludak sampai ke jalan raya. Saya tadi salat di jalan raya," ujar Yadi, jemaah asal Denpasar kepada VIVA, Jumat, 8 Desember 2017.

Begitu tiba, ribuan umat muslim langsung mengumandangkan takbir yang bersahut-sahutan. Salawat nabi pun berkumandang. Pada kesempatan itu Ustaz Somad sempat menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Ia mengaku sudah mendengar akan ditolak datang ke Bali.

"Saya sudah dengar ada yang mau demo. Begitu saya turun dari pesawat saya lihat gerombolan orang. Saya kira itu yang mau demo saya. Tidak tahunya bubaran kerja pegawai," kata Ustaz Somad berkelakar.

Sebelumnya, Ustaz Abdul Somad memang tertahan di Hotel Aston Denpasar. Sejumlah elemen ormas yang tergabung dalam Komponen Rakyat Bali (KRB) menolak kehadiran Ustaz Somad. Mereka menuding Somad dedengkot penyebaran Khilafah yang bertentangan degan NKRI.

Pada pembuka ceramahnya, Ustaz Somad mengaku perjalanan dakwahnya mulai dari Makassar, Pontianak, Bangka Belitung, di Bali inilah yang menurutnya paling luar biasa. Ustaz Somad mengaku tak habis pikir ia dituding anti-Kebhinekaan, tak cinta pada NKRI. Menurut dia itu semua disebarkan oleh provokator.

"Apa betul saya anti NKRI? Kata siapa! Sebelum berangkat ke Mesir tahun 1998, 100 anak-anak Indonesia yang diberangkatkan mesti lulus tes Pancasila dan P4. Saya termasuk satu dari 100 siswa yang lulus tes itu. Bukan cuma bahasa Arabnya, tapi Pancasila dan P4," kata Ustaz Somad di Masjid An-Nur Denpasar, Jumat 8 Desember 2017.

Sepulangnya dari Mesir, Ustaz Somad melamar sebagai dosen di sebuah universitas. "Salah satu tes dosen adalah mesti cinta kepada NKRI," tegas dia.

Tak sampai di situ, Ustaz Somad kemudian menceritakan pengalamannya masuk ke kampung-kampung di pedalaman di berbagai daerah. Selain untuk berdakwah, ia mengaku menanamkan rasa cinta Tanah Air kepada anak-anak di pedalaman.

"Saya masuk ke kampung-kampung di pedalaman tiap Februari dan Agustus dalam setahun bertepatan dengan libur semester," tuturnya.

"Di Riau saya jalan 5 jam untuk sampai ke tepi sungai. Kami naik sampan 7 jam ke kampung pedalaman. Saya mengibarkan bendera Merah Putih bersama anak-anak desa tertinggal," Ustaz Somad menambahkan.

Jika ada isu yang mengatakan jika ia bagian dari kelompok radikal, anti terhadap NKRI maka ia memastikan hal itu tak benar.

"Itu pasti disebarkan oleh orang yang tidak punya paket data internet. Nontonnya cuma video pendek. Kita doakan orang menyebarkan isu itu diberi hidayah. Yang paling penting diberi Allah rezeki yang lapang agar bisa beli paket 4 GB, biar bisa nonton video ceramah sampai selesai bahwa Islam itu datang sebagai rahmatan lil 'alamin," kata Ustaz Somad.

Berikut Vidio Ustadz Somad Dipedalaman Terpencil Ajarkan Bagaimana Mencinta NKRI:

VIDIO 1:



VIDIO 2:



(aya/rep)

Intoleran dan Merusak Pancasila Anggota DPD Asal Bali Dilaporkan

Kabarsatu- Wakil Ketua Komisi II DPR RI Lukman Edy berencana akan melaporkan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, Arya Wedakarna ke Badan Kehormatan DPD RI ini hari (Senin, 11/12).

Laporan tersebut, atas dugaan lontaran fitnah yang dilakukan Arya kepada Ustad Abdul Somad (UAS) saat menggelar safari dakwahnya di Bali.

“Saya akan melaporkan anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna ke BK DPD RI karena telah memfitnah Ustad Abdul Somad saat tengah melakukan safari dakwah di Bali tanggal 9 Desember lalu,” kata Lukman, di Jakarta, Minggu (10/12) malam.

Anggota dewan dari daerah pemilihan (Dapil) Riau itu menyatakan akibat fitnah yang disampaikan Arya, sekelompok orang menggeruduk dan mencegat Ustad Abdul Somad di hotel Aston, tempat sang ustd menginap.

“Kejadian yang menimpa Ustad Abdul Somad di Bali dipicu dengan pernyataan Arya Wedakarna. Saya minta BK DPD RI menindak tegas anggota DPD RI yang menebarkan fitnah sehingga ada aksi pencegatan terhadap Ustad Abdul Somad,” tegas dia.

Sebagaimana sempat diberitakan, Anggota DPD RI asal Bali menolak kedatangan Ustad Abdul Somad dalam rangkaian safari dakwah di Pulau Dewata tersebut 8-10 Desember. Dalam akun facebooknya, Arya menuding Ustad Abdul Somad adalah anti Pancasila.

“Siapapun boleh datang ke Bali, Pulau Seribu Pura, bahkan Raja Arab Saudi saja tidak masalah datang ke Bali untuk berlibur asal tanpa agenda politik terselubung. Tapi tentu Bali menolak jika ada oknum siapapun yang datang ke Pulau Dewata dengan agenda anti Pancasila. Ngiring kawal NKRI dan Tolak Agenda Khilafah tersosialisasi di Bali,” kata Wedakarna melalui fan page Facebook @dr.aryawedakarna, Jumat (1/12).

Wedakarna menyebut, penolakan itu merupakan aspirasi masyarakat Bali yang sudah viral di medsos beberapa hari sebelumnya. Ia menyertakan screenshoot postingan Instagram @creme_de_violette yang berjudul “Jangan biarkan mereka meracuni Bali waspadalah wahai saudara2ku di Bali, jangan sampai Bali menjadi Majapahit kedua.” (aya /akt)

Ketahuan Buang Duit ke WC Waktu Digeledah KPK, Kini Tin Malah Jadi Staf Ahli Menteri PANRB

Kabarsatu- Tin Zuraida diangkat menjadi staf ahli Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Manpan RB) bidang politik dan hukum. Sebelumnya, rumah Tin pernah digeledah KPK dan ia membuang berkas serta duit lebih dari Rp 1 miliar ke toilet. Bagaimana aturan pemilihan staf ahli menteri?

Sesuai dengan Pasal 19 UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, maka staf ahli merupakan Jabatan Pimpinan Tinggi Madya. Di mana orang yang dapat menduduki jabatan tersebut harus memenuhi syarat tertentu yang lebih berat dibandingkan jabatan lainnya.

"Di antaranya adalah syarat kompetensi, kualifikasi, kepangkatan, pendidikan dan pelatihan, rekam jejak jabatan dan integritas, serta persyaratan lain yang dibutuhkan," kata ahli perundangan Dr Bayu Dwi Anggono kepada detikcom, Minggu (10/12/2017).

Rekam jejak jabatan dan integritas merupakan syarat mutlak bagi jabatan pimpinan tinggi madya. Menurut UU ASN, jabatan pimpinan tinggi berfungsi memimpin dan memotivasi setiap pegawai ASN pada instansi pemerintah melalui kepeloporan dalam bidang keteladanan dalam mengamalkan nilai dasar ASN dan melaksanakan kode etik dan kode perilaku ASN.

"Untuk itu apabila ada figur tertentu, dalam hal ini Tin Zuraida yang mengisi Jabatan Pimpinan Tinggi Madya, menurut publik tidak memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan karena diduga pernah melakukan perbuatan tidak patut maka Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang mengusulkan pejabat tersebut untuk diangkat oleh Presiden perlu memberikan penjelasan ke publik perihal alasan mengusulkan pejabat tersebut," papar Direktur Pusat Kajian Pancasila dan Konstitusi (Puskapsi) Universitas Jember itu.

Selain itu atas aspirasi publik ini, maka Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dapat menindaklanjutinya dengan melakukan investigasi untuk melihat apakah ada pelanggaran dalam pengisian jabatan ini.

"Menurut UU ASN, Komisi Aparatur Sipil Negara memiliki wewenang untuk mengawasi setiap tahapan proses pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi mulai dari pembentukan panitia seleksi instansi, pengumuman lowongan, pelaksanaan seleksi, pengusulan nama calon, penetapan, dan pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi," cetus doktor dengan disertasi penelitian lebih dari 200 UU pascareformasi itu.

Belajar dari kejadian ini, sambung Bayu, menunjukkan kepekaan dari pejabat publik, dalam hal ini Menteri PAN dan RB dalam menangkap aspirasi publik sangatlah rendah. Padahal kementerian yang dipimpinnya adalah pionir dalam pelaksanaan reformasi birokrasi yang mensyaratkan adanya kepatuhan bagi aparatur sipil negara dalam melaksanakan kode etik dan kode perilaku ASN yang salah satunya mendukung penuh pemerintahan bersih dan antikorupsi.

"Pasal 124 PP 11/2017 jelas menyatakan bahwa jabatan pimpinan tinggi madya di Kementerian, di mana Staf Ahli Menteri sesuai Pasal 19 UU ASN masuk bagian dari Jabatan Pimpinan Tinggi Madya. Maka yang memilih adalah Presiden atas usulan Menteri," pungkas Bayu.
Pembuang Duit ke WC Jadi Staf Ahli Menteri, Yuk Lihat Aturannya

Hingga berita ini diturunkan, detikcom terus berusaha mengkonfirmasi terpilihnya Tin sebagai staf ahli Menpan RB itu. Kepala Biro Humas KemenPAN, Herman Suryatman tidak membalas pesan yang dikirimkan detikcom lewat Hp-nya. Telepon sempat diangkat, tetapi tiba-tiba dimatikan.(aya/dk)

Langgar UU, Ormas Provokator dan Intoleran Mengusir Ust Somad Terancam Dibubarkan

Kabarsatu- Ormas yang berupaya melakukan pengusiran terhadap Ustadz Abdul Somad di Bali telah melanggar Undang-Undang Ormas yang baru disahkan. Ormas tersebut terancam bisa dibubarkan. Demikian disampaikan Direktur Legal LBH Street Lawyer, M. Kamil Pasha.

Menurutnya, ormas di Bali tersebut telah nyata-nyata bertentangan dengan pasal 59 Ayat 3 UU Ormas.

"Ormas dilarang melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan," kata Pasha seperti dikutip Republika, Ahad (10/12/2017).

Lebih jauh ia menjelaskan, selain dilarang menista agama, ormas juga dilarang melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman maupun ketertiban umum.

Karenanya, LBH Street Lawyer meminta dengan tegas agar pemerintah dan Kepolisian menerapkan UU Ormas tanpa pandang bulu. Termasuk kepada Ormas yang terlibat dalam persekusi atas Ustadz Abdul Somad di Bali, baru-baru ini.

Kedua, LBH Street Lawyer meminta Kepolisian menindak tegas dengan segera menangkap dan memproses hukum pengurus dan anggota ormas tersebut agar kejadian serupa tidak terulang.

Ketiga, LBH Street Lawyer meminta pemerintah membubarkan ormas tersebut. (aya/tby)

Penolakan Terhadap Ustad Somad Merusak Pancasila dan Kerukunan Umat Beragama

Kabarsatu- Penolakan safari dakwah Ustad Abdul Somad di Pulau Bali, oleh anggota ormas setempat mendapat kecaman keras sejumlah kalangan. Penolakan tersebut justru mencederai nilai-nilai Pancasila dan dapat merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.

"Tindakan tersebut menciderai kebhinekaan yang ada di Indonesia," kata Ketua Umum Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI), Farhan Hasan dalam siaran pers, Ahad (10/12).

Farhan menyayangkan tindakan yang dilakukan sejumlah ormas di Bali terhadap Ustaz Abdul Somad. Menurutnya, tak sepatutnya tokoh agama diperlakukan seperti itu.

"Bayangkan, seorang tokoh agama diperlakukan seperti itu? Ada ancaman dan fitnah. Kami meminta aparat hukum menindak tegas tindakan-tindakan yang menyebabkan hal-hal intoleran tersebut dan persekusi semacam itu beserta aktor intelektualnya, karena akan memicu konflik horizontal," tegasnya.

Farhan melanjutkan, selama ini umat Hindu di Bali memiliki sikap paling toleran terhadap tamu-tamu yang datang ke Bali. Hal ini jangan sampai ternodai oleh perbuatan beberapa kelompok 'preman' yang memprovokasi untuk memecah belah bangsa dan bertentangan dengan norma-norma pancasila.

"Kami berharap di Indonesia terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tidak terjadi lagi hal-hal seperti ini," ujar Farhan.(aya/rep)

Ustaz Abdul Somad Tak Sudi Didikte Preman Nasi Bungkus

Kabarsatu- Ustaz Abdul Somad siang tadi disambut masyarakat Melayu di Riau setelah melakukan safari dakwah di Bali. Sambutan ini sebagai bentuk dukungan karena sempat ada fitnah dari sejumlah orang yang tergabung dalam Komponen Rakyat Bali (KRB) saat Somad akan ceramah di Pulau Dewata.

Selain masyarakat Riau, kedatangan Abdul Somad juga disambut Dewan Pengurus Harian Lembaga Adat Melayu. Mereka datang ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru untuk menyambut kepulangan ustaz lulusan Maroko itu.

Sempat ditolak karena dianggap penceramah yang anti kebhinekaan dan anti-NKRI, kemudian dipaksa untuk berikrar, Ustaz Somad menjelaskan, dari awal dirinya mememang menolak saat dipaksa berikrar.

"Bukan berarti saya tak cinta NKRI. Saya tak perlu berikrar di depan orang yang tidak punya legalitas dan otoritas untuk memaksa saya. Otoritas mereka untuk memaksa saya berikrar di depan mereka apa? Masalah menyanyikan lagu Indonesia Raya, masih ada viral video saya di kampung Suku Talang Mamak sana, kami menyanyikan lagu dan mengibarkan bendera Indonesia Raya," ujarnya.

Menurut Somad, tidak perlu ada pihak mana pun meragukan kecintaannya terhadap NKRI. Dia hanya tidak ingin ada preman yang mendikte dirinya. Karena itu, dia minta pemerintah dapat menjaga ulama.

"Saya hanya tidak mau didikte di depan preman-preman nasi bungkus. Itu yang saya tidak mau. Ke depan saya mau menyatakan bahwa pemerintah harus menjaga ulama kalau tidak umat akan mengamuk," katanya.

Meski begitu, Somad meminta umat menyikapi masalah ini seperti menarik rambut di tepung. Jadi jangan sampai ada perselisihan yang berlanjut setelah kejadian yang lalu.

"Rambut ditarik, tepung tak rusak. Jangan sampai gara-gara nila setitik rusak susuk sebelanga. Di Bali ada komunitas Umat Hindu yang sudah hidup lama bersama umat Islam, 800 tahun, tidak pernah rusak," ujarnya.

Perkokoh Silahturahmi

Ketua Umum LAM Riau, Syahril Abubakar, mengatakan bahwa Ustaz Somad punya komitmen untuk memperkokoh silahturahmi masyarakat dalam payung NKRI.

"Dia berangkat untuk memperkokoh NKRI. Kami mengimbau semua lapisan masyarakat bahwa orang Melayu tetap membela Ustaz Abdul Somad. Mari kita jaga keutuhan NKRI. Jangan memutarkbalikkan fakta," kata Syahril Abubakar.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang sudah menjaga dan melindungi Ustaz Abdul Somad selama berada di Bali.

"Terutama, kami mengucapkan terimakasih dan salam hormat buat Tuan Raja Ida Cokorda Pemecutan XI yang telah memberikan perlindungan kepada anak kemenakan kami selama berada di tanah Bali," katanya. (aya/rep)

PEDAS, Sindir Jonan, Wasekjen MUI: Nasib Rakyat Seperti Kambing Digiring Srigala ke Sarang Singa!

Kabarsatu- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan rencana PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) untuk memperkenalkan kompor listrik. Jonan menjelaskan inovasi kompor listrik tersebut dapat mengurangi impor gas yang selama ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Liquefied Petroleum Gas (LPG).

"Kalau ini jalan, mungkin nanti PLN akan memperkenalkan adanya kompor induksi, kompor listrik," ungkap Jonan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/11).

Upaya transformasi dari LPG menjadi kompor listrik ini juga bertujuan untuk menghemat biaya, Jonan menyebutkan penghematan tersebut cukup signifikan. "Kita berusaha untuk ganti menjadi listrik. Kalau ganti menjadi listrik itu kira-kira biayanya hanya 50-60 persen dari kalau kita menggunakan LPG kemasan tabung 3 kg. Nanti kita akan dorong," ujarnya.

Kompor listrik ini juga merupakan suatu upaya untuk mewujudkan kemandirian energi, sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN).

"Ini sesuai Kebijakan Energi Nasional itu adanya kemandirian energi karena listriknya dihasilkan dari batubara, dari gas dalam negeri, dari air, angin, dan sebagainya. Jadi ini mohon juga didukung," tutur Jonan.

Selain menyampaikan rencana penerapan kompor listrik, Jonan juga menjelaskan program-program prioritas Pemerintah di sektor ESDM, antara lain Program Kelistrikan 35 ribu MW, listrik perdesaan untuk peningkatan rasio elektrifikasi, BBM Satu Harga, jaringan gas kota, konverter kit untuk nelayan, serta pembangunan pembangkit listrik mulut tambang.

Rencana Jonan mengalihkan Gas ke Kompor listrik mendapat sindiran PEDAS dari Wasekjen MUI Ustad Tengku Zulkarnaen.

Ustad Tengku menyindir dengan kalimat pedas singkat tapi tepat sasaran.Kata ustad Tengku dulu minyak tanah di hapus dengan tujuan rakyat wajib beralih ke Gas sehingga subsidi minyak tanah pun dihilangkan.sekarang Gas langka dan sulit. Pak Menteri minta pakai rakyat beralih pakai Kompor Listrik. Sedangkan tidak pakai tarif listrik saja beban biaya listrik sudah bengkak 3 Kali Lipat.

Apalagi pakai kompor listrik?.Ustad Tengku prihatin  nasib rakyat direjim Jokowi seperti kambing digiring Srigala ke sarang Singa!.

“Dulu Minyak Tanah Dihapus, Diwajjbkan Pakai GAS. Skrg Gas Langka dan Sulit, Pak Menteri Minta Pakai Kompor Listrik. Sedangkan Tidak Pakai Saja Tarif Listrik Sudah BENGKAK 3 Kali Lipat. Apalagi Pakai Kompor Listrik? Nasib Rakyat Bisa Spt Kambing Digiring Srigala ke Sarang Singa!” sindir Ustad Tengku.(aya/rep)

ISIS Bungkam AS Akui Yerusalem Ibu Kota Israel, Fakta ISIS Bukan Islam

Kabarsatu- Kelompok Daesh atau dikenal sebagai ISIS tidak bersuara ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara resmi dan sepihak mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Padahal, kelompok militan lain seperti al-Qaeda, Taliban, Hamas dan Hizbullah mengobarkan perlawanan.

Sekalipun bersuara, ISIS nyaris tak terdengar. Media propagandanya baru memunculkan sikap kelompok itu pada hari Jumat. Isinya pun justru mencela kelompok pesaing dan para pemimpin Arab yang dianggap munafik.

“Bagaimana ISIS menanggapi pengumuman AS tentang pemindahan kedutaan ke Yerusalem? Marah? Nggak. Menyerukan jihad? Tidak juga,” kata peneliti independen, Raphael Gluck, di Twitter.

“ISIS mengambil tusukan pada pesaing dan menuduh kelompok-kelompok Islam lain mempolitisir kepentingan Palestina sesuai dengan agenda mereka sendiri. Mengapa?,” ujar Gluck, seperti dikutip New York Times, Sabtu (9/12/2017).

Reaksi ISIS yang tak bergejolak itu muncul dalam bulletin propagandanya, Naba, yang telah dianalisis SITE Intelligence Group. ”Enam puluh tahun dan Yerusalem telah berada di tangan orang-orang Yahudi, dan baru sekarang orang-orang menangis saat Tentara Salib mengumumkan hari ini sebagai ibu kota mereka,” bunyi sikap ISIS dalam siaran propagandanya tersebut.

”Apakah seruan ini menimbulkan masalah yang biasa mereka tangisi setiap kali disebutkan?,” lanjut sikap ISIS. ”Atau apakah ini kesempatan baru bagi para pedagang iman dan orang-orang yang curang untuk meninggikan suara mereka lagi?”.

Kelompok yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi ini berpendapat bahwa fokus yang semestinya adalah bekerja untuk mengalahkan negara-negara Arab yang berdering dengan Israel. ”Yang seperti gelang mengelilingi pergelangan tangan, melindungi orang-orang Yahudi dari serangan para mujahidin,” lanjut sikap ISIS.

Sentimen kepedulian terhadap Palestina lebih nyaring disuarakan al-Qaeda, Hizbullah, dan Hamas.

Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP), misalnya, menyatakan bahwa keputusan Trump tentang Yerusalem adalah sebuah agresi melawan Islam. Kelompok ini mendesak para pengikutnya untuk mengangkat senjata sebagai balas dendam.

”Orang-orang Yahudi tidak memiliki hak atas sebiji pasir di Palestina dan Yerusalem,” kata kelompok itu dalam siaran propagandanya yang dipantau SITE Intelligence Group.

“Kami menekankan bahwa apa pun yang diambil secara paksa hanya bisa diambil secara paksa,” lanjut kelompok tersebut.
Diamnya kelompok yang ISIS terhadap pernyataan gila Trump tersebut semakin mengungkap siapa ISIS sesungguhnya, ISIS seolah-olah pengamini dan mendukung apa yang dipebuat oleh keturunan yahudi sekelas Trump. ISIS bukan Islam? itulah kecaman netizen terhadap diamnya kelomp tersebut.
(aya/sin)

Ternyata Yang Menolak Itu Provokator, Lihat Nih Sambutan Hangat Raja Bali di Ceramah Ust Somad

Kabarsatu- Tenyata benar faktanya yang menolak kedatangan Ustad Abdul Somad di Bali  hanya segelintir provokator bayaran yang INTOLERAN, entah atas suruhan siapa?.

Ustad Abdul Somad sangat diterima masyarakat Bali, bahkan Raja Bali menyambut baik Ustad Abdul Somad, menjabat tangan dan memeluk erat, bahkan Raja Bali ini ikut hadir mendengar ceramah Ustad Abdul Somad di Masjid Raya Baiturrahman (masjid yang sudah berdiri sejak 1926) yang terletak di Kampung Jawa Denpasar Bali tadi malam, Sabtu (9/12/2017), yang dibanjiri jamaah hingga meluber ke jalan-jalan.

Berikut selengkapnya penuturan Agung Soni, warga muslim asli Bali yang diposting di akun fbnya:

"Islam & Hindu Hidup Harmoni Ratusan Tahun di Bali"

Sebagai seorang muslim yang darah kental dari nenek dan ibu saya yang asli Bali, rasanya haru melihat raja Bali Ida Cokorda Pemecutan XI berjabat tangan erat, dan memeluk Ustadz Abdul Somad kemarin (Sabtu).

Raja Pemecutan XI juga hadir di Masjid Baiturrahman Kampung Jawa dan duduk mendengarkan tausiyah dari Ustadz Abdul Somad bersama jamaah lainnya yang membludak hampir tidak tertampung.

Inilah kebahagiaan buat
banyak muslim berdarah Bali, seperti saya.

Bagaimana rasanya, melihat orang terhormat yang beragama lain, mau duduk, mendengar dan berjabat tangan erat memeluk seorang Ulama yang barusan saja mau dijadikan sasaran tembak sebagai umpan pemecah belah antara Islam & Hindu di Bali yang sudah subur hidup harmoni selama ratusan tahun.

Pecah air mata saya......

Sasaran tembak itu ternyata bukan orang sembarangan.

Politisasi kedatangan Ustadz Abdul Somad ke Bali tidak berhasil.

Bahkan inilah bukti, bahwa Allah Ta'ala menjaga keharmonisan Umat Islam dan Umat Hindu di Bali selama ratusan tahun hingga sekarang ini.

Kami bangga disebut "nak selem" ( Orang Islam) oleh saudara kami yang Hindu di Bali.

Mereka bagian Ukhuwah Wathoniyah, Saudara sebangsa setanah air.

Kami hidup berdampingan damai di Bali.

Jelas, adu domba devide at impera oleh politisi, oleh oknum, oleh ormas atau siapapun kemarin atas momen safari dakwah UAS di Bali adalah perbuatan lacur dan jahat.

Allahu Akbar!
Astungkara....
hidup harmoni adalah sebuah pilihan dan provokasi adalah sebuah kejahatan.

(Agung Soni)

Berikut rekaman video ceramah Ustad Abdul Somad di Masjid Raya Baiturrahman Bali yang dihari Raja Bali:



(aya/poris)

Jokowi: Para Pembuat Kebijakan Harus Lihat Kepetingan Masyarakat Bawah

Kabarsatu- Presiden Joko Widodo membuka peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia ke-69 di Surakarta, Jawa Tengah, Minggu 10 Desember 2017. Jokowi menekankan prinsip-prinsip HAM dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, harus terus ditingkatkan.

Menurut dia, setiap kebijakan pemerintah dan pihak lain harusnya bisa melihat kondisi masyarakat di bawah.

"Para pembuat kebijakan, para politisi, birokrat, pemimpin sosial, bahkan pengusaha harus bisa melihat keadaan pandangan dari masyarakat bawah, dari sisi kepentingan masyarakat bawah," kata Jokowi, Minggu 10 Desember 2017.

Untuk itu, Jokowi menceritakan alasan dia sering turun dan melihat langsung masyarakat. Sikap Jokowi yang turun dan terus mengecek program-program pemerintah yang dilaksanakan.

"Itulah alasannya mengapa saya selalu berusaha mengawal kebijakan dari hulu sampai hilir, mengontrol, mengecek, mengawasi, memonitor. Selalu kita lihat di lapangan dan itu melihat dari sisi kepentingan masyarakat," jelas mantan Gubernur DKI itu.

Untuk program-program yang menyangkut kepentingan masyarakat, Jokowi memaparkan sudah banyak. Ia mencontohkan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang kini sudah dinikmati 17,9 juta anak dari keluarga tidak mampu.

"Jaminan kesehatan nasional, KIS (Kartu Indonesia Pintar) saat ini sudah lebih dari 92,4 juta penerima," katanya.

Bahkan, untuk hak-hak masyarakat lokal dan adat juga diperhatikan oleh pemerintah. Kebijakan pemerintah dengan pemberian pengelolaan tanah dan hutan adat.

Meski begitu, Jokowi menegaskan program-program pemerintah yang penting harus bisa dirasakan masyarakat di bawah. Jadi, bukan dari jumlah seberapa banyak yang dilakukan pemerintah.

"Saya yakin kebijakan yang baik bukanlah seberapa banyak yang telah dilakukan pemerintah. Tetapi seberapa banyak yang dirasakan manfaatnya untuk masyarakat terutama masyarakat bawah," jelas Jokowi. (aya/viv)

Akbar Tanjung: Mbak Titiek Ikut Kontestasi Ketum Golkar

Kabarsatu- Bursa calon ketua umum Golkar semakin dinamis. Calon-calon ketua umum partai beringin itu pun mulai bermunculan. Satu dari sekian nama yang memastikan siap melantai di Munaslub adalah Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Informasi tentang keikutsertaan Titiek dalam pertarungan merebut kursi ketua umum disampaikan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tanjung seusai menghadiri pertemuan sesepuh Golkar yang digelar Titiek di kediamannya, Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Sabtu (9/12).

"Mbak Tutut menyampaikan bahwa Mbak Titiek ingin ikut ke dalam kontestasi ketum dalam munaslub yang akan datang sesuai aturan yang berlaku di partai," ucap Akbar merujuk perkataan Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto dalam pertemuan.

Selain soal niat Titiek, Akbar juga menyampaikan pesan soal kesediaan keluarga Soeharto untuk kembali menggelar pertemuan sesepuh-sesepuh Golkar seperti pertemuan yang dilakukan atas undangan Titiek.

Informasi yang dihimpun redaksi setidaknya ada 23 politikus senior yang diundang Titiek ke Jalan Cendana. Selain Akbar Tanjung diantara sesepuh Golkar yang pernah membantu Soeharto yang hadir dalam pertemuan tersebut yakni Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, Emil Salim, Cosmas Batubara, Subiakto Tjakrawerdaya, Abdul Gafur, Oetojo Oesman, Akbar Tandjung, Haryono Suyono, Indra Kartasasmita, Subagyo, dan Sulastomo.

"Mbak Tutut menyatakan 'kalau bapak-bapak ingin ketemu lagi, akan bersedia menyediakan tempat di rumah Pak Harto'," kata Akbar.

Terkait pelaksanaan munaslub, Akbar menyampaikan bisa saja diselenggarakan pertengahan Desember ini.

"Tapi kita belum tahu mekanismenya, di mana, itu belum tahu," kata Akbar.(aya/rol)

Berita Terbaru

[recent][#1abc9c]

Tip Sehat

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.